QSO

Kata Sambutan Ketua Divisi Humas dan Syiar

"Alhamdulillah, dengan hadirnya Portal Qalbun Salim Online ini semoga dapat menjadi media sosial yang baik untuk membangun Syi'ar Islam dan sebagai pusat informasi baik untuk kader FSI maupun untuk mahasiswa/i di seluruh Indonesia."

Divisi Kaderisasi

"Divisi ini bertugas untuk Merekrut, membentuk dan membina kader-kader FSI Qalbun Salim sebanyak-banyaknya dengan memperhatikan sisi kualitas."

Divisi Kemuslimahan

"Divisi ini bertugas untuk membuat kebijakan internal dan eksternal Kemuslimahan, membuat rancangan program kerja Kemuslimahan, mengelola dan memantapkan potensi kemuslimahan kader dan pengurus, menyelenggarakan program kerja yang menunjang kemuslimahan Kader, Pengurus dan masyarakat, serta ikut aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh FSI Qalbun Salim"

Divisi Humas dan Syi'ar

"Divisi ini bertugas untuk menyebarkan opini dan memberikan pemahaman tentang Islam kepada seluruh civitas akademika melalui jalur jurnalistik media cetak dan sosial, menyalurkan serta mengembangkan minat dan bakat anggota FSI Qalbun Salim khususnya dan Mahasiswa STIE Pembangunan Tanjungpinang pada umumnya yang berlandaskan Islam serta bertanggung jawab terhadap usaha-usaha peningkatan prestasi akademik anggota FSI Qalbun Salim dan Mengadakan kegiatan yang meningkatkan syi’ar ke masyarakat ’ammah (umum)."

Divisi Dana dan Usaha

"Divisi ini bertugas untuk mencari alternatif dana mandiri, membantu bendahara dalam mengusahakan pemasukan dana bagi organisasi, serta bertanggung jawab dan berkoordinasi dengan Ketua Umum dan Bendahara Umum."

Jumat, 24 Juli 2015

Kisah Hikmah

🔰🌷✔
■◎■◎■◎■
🌷✔AMBILLAH PELAJARAN, WAHAI ORANG YANG BERAKAL!!

📆Dihikayatkan bahwa ada seorang bernama "Bahlul" seorang lelaki gila pada masa khilafah abbasiyyah Harun ar Rasyid...

🌈Pada suatu hari, Khalifah Harun ar Rasyid melewatinya, dalam keadaan Bahlul sedang duduk di salah satu kuburan.

🔸Maka khalifah Harun berkata kepadanya:
"Wahai Bahlul...Wahai Majnun...kapan kamu akan berakal?!

🌴🔹Maka Bahlul pun lari kemudian memanjat pohon yang paling tinggi, kemudian iapun menyeru kepada Harun dengan suara yang paling tinggi:
"Wahai Harun...wahai Majnun...kapan engkau akan berakal?.

🔸🌾Maka Harun pun menghampirinya di bawah pohon, dalam keadaan beliau menunggang di atas kudanya dan berkata kepada Bahlul:
"Aku yang gila ataukah engkau yang duduk di atas kuburan?

🔹Maka Bahlul berkata kepadanya:
"Bahkan aku orang yang berakal !!
🔸Berkata Harun:
"Bagaimana bisa demikian?!

🔹Berkata Bahlul:
"Dikarenakan aku mengetahui bahwa ini semua akan lenyap (sambil mengisyaratkan ke istana Harun).
Adapun ini akan kekal (sambil mengisyaratkan ke kubur).
Akupun sudah terbiasa tinggal di sini, sebelum aku akan benar-benar akan tinggal di sini (kuburan).

Sementara engkau terbiasa hidup di istanamu.
Engkau pun meninggalkan dari mengingat kubur, engkau juga tidak suka untuk berpindah dari istana kepada kehancuran, dalam keadaan engkau mengetahui bahwa itulah tempat kembalimu. Bukan perkara yang mustahil, tapi pasti...
🔹Bahlul pun menimpali: "Maka katakan kepadaku, siapa orang yang GILA?!

🔰💦Maka Harun ar Rasyid pun bergetar hatinya, kemudian menangis sampai basah jenggotnya.
Lalu berkata: "Sungguh engkau benar..."

🔸Kemudian Harun berkata:
"Tambahkanlah kepadaku nasihat, wahai Bahlul !!"

🔹Bahlul pun berkata:
"Cukup bagimu Kitabullah, berpegang teguhlah dengannya!!"

🔸Harun berkata:
"Apakah engkau memilki kebutuhan, sehingga aku akan memenuhinya untukmu?"

🔹Bahlul berkata:
"Iya. Aku punya 3 kebutuhan...
Kalau engkau mampu untuk memenuhinya, maka aku akan sangat berterima kasih kepadamu.
🔸Berkata Harun:
Mintalah !!

🔹Berkata Bahlul:
"Apakah engkau mampu untuk menambah umurku?!
🔸Harun menjawab:
"Aku tidak mampu."

🔹Bahlul berkata lagi:
"Apakah engkau mampu menjagaku dari malakul maut!!
🔸Harun menjawab:
"Aku tidak mampu."

🔹Bahlul berkata:
"Apakah engkau mampu untuk memasukkanku ke dalam al Jannah dan menjauhkan aku dari an Naar?!
🔸Harun pun menjawab:
"Aku tidak mampu..."

🔹Berkatalah Bahlul:
"Maka ketahuilah, engkau hanyalah seorang raja dunia...engkau bukanlah Raja yang sesungguhnya (Allah ta'ala).
Aku tidak butuh kepadamu.

📕Uqalaul Majanin-Abul Qasim al Hasan bin Muhammad bin Habib an Naisaburiy (Wafat 406H).

■◎■◎■◎■
🔰🌠Forum Salafy Purbalingga

Jumat, 17 Juli 2015

Amal Manusia

Ssstt...Coba Disembunyikan Saja yang Ini dan Reguk Faedahnya

Coba kita bersikap jujur dan bertanya pada diri sendiri, “Berapakah amal sholeh kita yang tersembunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan istri dan anak-anak?. Ataukah setiap kali kita beramal sholeh hati dan lidah menjadi gatal ingin segera menceritakannya kepada orang lain??”.

Sungguh tidaklah mudah menyembunyikan amalan sholeh, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang senang untuk dipuji dan dihormati. Dengan menampakan kebaikan dan amal sholehnya maka orang-orangpun akan menjadi menghormati, menghargai, dan memujinya.

Faedah menyembunyikan amal sholeh :
* Menyembunyikan amal sholeh lebih menjauhkan seseorang dari penyakit riyaa dan sum’ah

* Amal sholeh yang tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal sholeh yang dinampakan

* Amal sholeh yang tersembunyikan bisa menjadikan seseorang jauh dari penyakit ujub. Karena ia sadar bahwasanya ia telah berusaha menyembunyikan amalan sholehnya sebagaimana ia telah mati-matian berusaha untuk menyembunyikan kemaksiatan-kemaksiatan dan keburukannya. Jika orang-orang tidak mengetahui kebaikannya maka sebagaimana mereka tidak mengetahui keburukan-keburukannya
Karenanya Salamah bin Diinaar berkata :

اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu”

* Amal sholeh yang tersembunyikan melatih seseorang terbiasa hanya mencari muka di hadapan Allah dan tidak memperdulikan komentar manusia, karena yang terpenting adalah penilaian Allah dan bukan penilaian manusia

* Menyembunyikan amal sholeh menjadikan seseorang bahagia, karena meskipun tidak ada orang yang menghormatinya ia akan merasa bahagia karena Penguasa alam semesta ini mengetahui amal sholehnya.

Jumat, 10 Juli 2015

Jangan Terbalik Ya:)


Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah.Wallahu a’lam bish-shawabi.

Sumber: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah-sering-tertukar-dengan-ungkapan-masya-allah.html#sthash.I7e9HOkE.dpuf

Kamis, 09 Juli 2015

Renungkan:(

Ramadhan, Aku Pura-pura Rindu

Ramadhan, ternyata selama ini kami cuma pura-pura merindukanmu.
Sejak dua bulan lalu ketika kami panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepadamu, kami selalu bilang kami begitu merindukanmu. Ketika itu pula, kami selalu bilang kami tak sabar lagi untuk berjumpa denganmu—takut rasanya, bila ternyata umur ini membuat kami tak punya kesempatan untuk kita saling menyapa, saling mengisi, saling menyemangati. Akhirnya sampai juga hari ini, bahkan sudah separuh Ramadhan kami jalani.
Benar sekali, sukacita kami menyambut kehadiranmu. Apa lagi yang kami tunggu? Maka petasan meledak dan berisik di sana-sini, masjid-masjid kembali hidup, kitab-kitab dibersihkan dari debu yang menyelimutinya entah sejak kapan—Ramadhan lalu barangkali, berbondong-bondong kami berangkat shalat taraweh meski berat sebab perut kami masih dalam keadaan kenyang keterlaluan, pukul tiga acara televisi sudah ramai dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu, dan seperti biasa: lagu-lagu religi diperdengarkan di mana-mana.
Inikah juga yang kau harapkan wahai Ramadhan?
Tiap hari kami menghitung lembar-lembar kitab yang telah kami baca, kami tersenyum: sudah banyak, insyaallah targetan kami tercapai. Kami tak terlalu peduli apakah kitab yang bolak-balik kami baca itu kami mengerti atau tidak, apalagi mengamalkannya—kejauhan. Kami sudah sangat puas bila ada yang bertanya ‘sudah berapa lembar yang telah dibaca’ kami bisa menjawab: sudah khatam dua kali. Lalu mereka kagum. Bukankah itu surga?
Tapi itukah sambutan yang sungguh kau harapkan wahai Ramadhan?
Kami melihat agenda harian kami: Senin buka bersama dengan X, Selasa buka bersama dengan Y, Rabu buka bersama dengan Z sekaligus Sahur on The Road, Kamis.. Jumat.. begitu seterusnya. Begitulah cara kami merayakan kedatanganmu. Tarawih bisa dilewat karena sunnah, Shalat malam jangan ditanya, mana sanggup kami menunaikannya. Malam-malam kami habiskan dengan tidur dengan lelap karena lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur apalagi ketinggalan acara sahur favorit. Nanti kami dibilang tidak gaul.
Shalat shubuh di Bulan Ramadhan bagi kami adalah ritual penting menuju alam mimpi. Ya, kami tidur lagi karena tidur di Bulan Ramadhan adalah ibadah.
Puasa kami tak pernah bolong barang sehari, sebagaimana lisan kami yang tak pernah lupa jadwal amalan gibahnya. Kami begitu kuat menahan lapar, dahaga, berahi, sebagaimana kami begitu kuat menahan harta yang ada di dompet kami—tak ada yang boleh menyentuhnya sebab akan kami gunakan untuk lebaran mahameriah kami. Sesekali kami ingat ucapan penyair itu: ‘kau akan menjadi milik hartamu jika kau menahannya, dan jika kau menafkahkannya maka harta itu menjadi milikmu.’ Tapi siapa peduli. Lebaran tetaplah lebaran, merayakannya dengan kesederhanaan tak boleh jadi pilihan.
Seperti itukah perlakuan yang ingin kau dapatkan wahai Ramadhan?
Kelak ketika Ramadhan berakhir, kami—dengan mengendarai mobil pribadi kami—akan berkeliling mengunjungi saudara dan kerabat, bermaaf-maafan atau sekadar mencicip kue. Kami tentu senang, bahagia, karena katanya kami menang.
Ah, Ramadhan.
Entahlah, kami tak mengerti: barangkali kami memang cuma pura-pura merindukanmu.

by Azhar Nurun Ala

Rabu, 08 Juli 2015

Bicara Jodoh

❤❤❤❤❤❤❤
Jodoh itu unik,
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan
Maka, percayalah..
Jogoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya
Tapi,
seberapa yakin kau padaNya
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya
seberapa besar kau merayuNya
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya,lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya.
Percayalah dengan ayat ini, "..Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al-Baqoroh:216)
Smoga Sahabat yang sedang dalam penantian, semakin yakin dengan takdir Allah. Semakin semangat menjemput belahan jiwanya. # Aamiin