QSO

Minggu, 07 Juni 2015

»»» PARA DOKTOR & PROFESOR MUDA ««

Usia kurang dari 30 tahun, Mereka Sudah Meraih Gelar S-3 juga Menjadi Profesor
June 3, 2015 by lakoka

The golden age kata orang adalah saat kamu berusia dibawah 30 tahun, saat itu kamu masih bebas  mengerjakan apapun, traveling sejauh-jauhnya atau bekerja sekeras-kerasnya. Namun tidak dengan 9 anak Indonesia berikut ini. Mereka menghabiskan usia dibawah 30 tahun dengan belajar dan meraih gelar setinggi-tingginya. Dan tentu sejauh-jauhnya…

Mereka belajar hingga ke negeri orang, di kampus-kampus terbaik dunia. Dengan kerja keras, mencari beasiswa dan membuat penelitian yang berdampak pada dunia. Tapi satu hal yang sama diantara mereka, tetap ingin menjadi warga negara Indonesia dan berbakti untuk negeri.

Inilah ke-10 anak muda terbaik Indonesia yang berhasil kami dapatkan informasinya :

1. Emil Dardak, Menjadi Doktor Termuda di Jepang Saat Usianya Masih 22 Tahun

Di fase awal karirnya, pada usia belia 20 tahun, Emil Dardak yang telah meraih gelar paskasarjana dari Jepang, telah menjadi panelis pada Asia Pacific Experts’ Meeting for Infrastructure Development yang diselenggarakan di Malaysia pada tahun 2004, Emil meraih gelar Doktor termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University  dengan konsentrasi riset di bidang infrastruktur dan pengembangan ekonomi wilayah. Dia juga menjadi peserta termuda diExecutive Education Programme di University of Oxford, United Kingdom bersama para senior project managers setingkat Direktur dan Head/Senior VP yang terpilih dari seluruh dunia untuk mengembangkan disiplin ilmuMajor Programme Management.

2. Cindy Priadi di usia 26 tahun, ia berhasil menamatkan studi doktoralnya di Universitas Paris-Sud 11, Perancis.

Dalam menempuh S-3,  program studi Geokimia Lingkungan seluruh biaya penelitian dan biaya hidup Cindy ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Perancis dan lembaga penelitian tersebut.  Tesis S-2 nya dijadikan proyek resmi oleh sebuah badan penelitian di Perancis sehingga mendapatkan pendanaan selama tiga tahun untuk penelitiannya. Yang membiayai penelitian tersebut adalah pengelola Sungai Seine atau semacam Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia. Mereka tertarik dengan penelitian Cindy karena ingin mengetahui kadar air di sungai tersebut serta untuk keperluan membuat instalasi dan pengelolaan air sungai dalam jangka panjang.

3. Arief Setiawan (25 Tahun), pemuda asli Semarang ini sudah mendapatkan gelar Doktor dari Tokushima University Jepang.

Gelar sebagai doktor bidang teknik termuda itu disematkan oleh MURI kepadanya. Salah satu kunci kenapa Arief bisa meraih gelar doktor semuda itu karena ia mengikuti kelas akselerasi semasa sekolah SMP dan SMA. Usia 15 tahun, ia sudah lulus dari SMA 3 Yogyakarta. Langkah masa depannya ia tujukan ke Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM). Pendidikan di UGM pun ia tempuh lebih cepat dari umumnya, hanya 3 tahun 9 bulan. Ia lulus dari UGM sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,93 di usia 19 tahun. Ia selalu berusaha membuktikan bisa menjadi yang terbaik.

4. Prof. Nelson Tansu, Ph.D, Meraih gelar Doktor saat usia 25 tahun, tak lama berselang meraih gelar Profesornya. Dan menjadi Profesor termudah di Amerika.

Saat ini Prof. Nelson menjadi profesor di universitas ternama Amerika, Lehigh University, Pensilvania dan mengajar para mahasiswa di tingkat master (S-2), doktor (S-3) dan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu
mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila

5. Ariawan Gunadi, Usia 29 Tahun meraih gelar Doktor Hukum di Universitas Indonesia (UI)

Sulung dari 3 bersaudara kelahiran Jakarta, 19 Maret 1985 selepas SMA, sudah mulai mencari uang dengan mengajar bahasa Inggris. Dari situlah ia membiayai kuliah dan mencari beasiswa. Disertasinya di Universitas Indonesia yang berjudul Perjanjian Perdagangan Bebas Dalam Era Liberalisasi Perdagangan Studi Mengenai ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang Diikuti oleh Indonesia.

6. Andy Octavian Latief, Ph.D, Meraih gelar Doktor saat usia 25 Tahun di Maryland University Amerika Serikat.

Pemuda jenius yang pernah meraih medali emas Olimpiade Fisika Internasional. Bukan hanya dari dalam negeri, kampus dari luar negeri, seperti kampus-kampus terkemuka di Asia, Australia, Eropa dan Amerika, bahkan kampus tempat dia belajar sekarang (Maryland University, Red) juga telah menawarkan kontrak kerja pada lelaki berkacamata ini.

7. Johny Setiawan Doktor muda Indonesia Penemu Lebih Dari 10 Planet Baru. Menyelesaikan S-3 saat usia masih 25 Tahun.

Dr rer nat Johny Setiawan adalah astronom asal Indonesia yang bekerja sebagai peneliti di Departemen Pembentukan Bintang dan Planet, Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman. Selama tujuh tahun berkarya sebagai peneliti sejak tahun 2003, astronom yang menjuluki dirinya “astronom gokil” ini telah menemukan 15 planet ekstrasurya alias planet-planet di luar tata surya kita.
 

8. Pandji Prawisudha, S3 Department of Environmental Science Tokyo Institute of Technology Japan , Tokyo.

Wawancara PPIJ (Persatuan Pelajar Indonesia Jepang) dengan beliau, bagaimana pengolahan sampah yang baik untuk Indonesia.

Samurai Merah Putih yang satu ini, Beliau adalah seorang lulusan S3 di Tokyo Institute of Technology, dan hingga Maret 2013 menjabat sebagai Asisten profesor di tempat yang sama. Sedikit sulit mendapatkan info detail mengenai Doktor Pandji ini.

 

9. Prof. Agus Pulung Sasmito, Menjadi Profesor di Mc-Gill University, Kanada. Dia menyelesaikan gelar Doktor pada usia 26 Tahun.

Agus meraih gelar S-3 di National University of Singapore (NUS) jurusan Teknik Mesin melalui program direct PhD (langsung dari S-1 ke S-3, tanpa melalui S-2) setelah mendapatkan beasiswa dari ASEAN University Network (AUN/SEED-Net) & NUS Research Scholarship.

10. Nur Asiah Aprianti, Phd meraih gelar Doktoral Nuclear Engineering pada usia 27 tahun di Kyushu University, Fukuoka-Shi

S-1 nya ditempuh di Institut Teknik Bandung, dan melanjutkan di kampus yang sama S-2 Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Nur akhirnya menerima beasiswa ke Jepang dan melanjutkan sekolahnya dengan menekuni bidang Nuklir…

 

Jadi bagi kamu yang masih dibawah 30 tahun, jangan sia-siakan sisa usia, let’s do something good for Indonesia.

Ke-9 anak muda Indonesia ini mendapatkan beasiswa dalam menempuh kuliah S-3 nya, beberapa diantaranya bahkan tidak melalui S-2 karena dianggap mampu untuk mengerjakan disertasi S-3. Kami yakin, ini hanya sebagian yang berhasil kami dapatkan infonya. Masih banyak anak Indonesia lain yang juga berprestasi baik di Indonesia maupun di kacah dunia.

 

0 komentar:

Posting Komentar

"berkatalah yang baik atau hendaklah diam"

-Admin QSO