Perjalanan hidup manusia, penuh dengan misteri...
Tidak semua hal dapat kita ketahui seketika...
Apa yang di rencanakan, sesungguhnya Allah SWT pun berencana dan rencanaNya lah yang akan berjalan...
Selesai dari satu urusan, maka urusan2 lainpun telah menanti...
Pekerjaan dunia tidak akan ada habisnya dan terus berkelanjutan...
Kita harus profesional dengan amanah dunia yang kita miliki, namun jangan sampai di sebabkannya kita kehilangan akhirat...
Sebab setelah kehidupan dunia, masih ada kehidupan akhirat yang sangat panjang dan abadi...
Terkadang yang kita inginkan, tak selamanya terwujud...
Namun yakinlah akan hal ini: bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita...
Bahwa Allah mungkin tidak memberikan semua yang kita mau, namun Ia selalu memberikan yang kita butuhkan...
Dan yakinlah bahwa doa2 kita, tidak ada satupun yang terlewatkan...
Semua didengar dan akan di kabulkan, tepat pada waktunya...
Dan sebaik2 senjata bagi seorang muslim adalah doa. Maka berdoalah, insya Allah berkah:)...
Sabtu, 19 September 2015
Penantian Panjang dalam Doa
Kamis, 10 September 2015
Teman dan Bekalan
🔹TEMAN DAN BEKALAN🔹
Semua insan di muka bumi tentu akan menjumpai perpisahan abadi dengan duniawi, sesaat setelah nyawa berhasil lolos melewati kerongkongannya. Ialah mati, sang pemutus segala nikmat, gerbang perjalanan menuju akhirat.
Sahabat, setiap perjalanan panjang pasti memerlukan kawan seperjuangan. Setiap perjalanan panjang juga membutuhkan banyak perbekalan. Lalu siapakah kawan itu, dan apa perbekalan yang kan kita bawa?
Kini, kian hari manusia kian terlihat mengkhawatirkan dunianya saja. Mempersiapkan sematang-matangnya bekal dunia yang berupa kumpulan harta, tingginya eksistensi, capaian jabatan, dan seterusnya.
Itulah manusia, kerap kali merasa cemas dengan dunianya, yang bahkan dunia tidak pernah mencemaskan mereka setitik pun. Padahal ketika manusia telah pergi, dunia tetap tegak berdiri, sebab Allah Swt lah yang kan mengaturnya sendiri.
Semisal rumah yang kita punya, dengan segera akan menjadi hak waris keluarga. Pun mobil yang kita miliki, masih tetap bersedia mengantarkan, meski hanya sampai gerbang pemakaman. Selebihnya ia akan mengantarkan keluarga serta kerabat yang nyawa mereka masih menyatu dengan badan.
Sama halnya dengan eksistensi diri. Awalnya keluarga, kerabat, sahabat, semua akan menangisi ketidakabadian kita. Kemudian memandikan, mengafani, menyolatkan, menguburkan, dan mendo'akan. Setelahnya? Mereka akan tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba di muka bumi.
Pun dengan jabatan, mungkin kolega kita akan merasa sangat kehilangan rekan kerja mereka, tetapi tidaklah berlangsung lama. Sebab setiap posisi akan terisi kembali, dengan atau tanpa kita, semua berjalan seperti sedia kala.
Seperti itulah dunia akan tetap berjalan tanpa kita cemaskan, yang dengan sertamerta akhirat telah menanti kesampaian kita pada akhir perjalanan.
Setiap perjalanan panjang pasti memerlukan teman serta perbekalan, dan hanya orang-orang cerdaslah yang mempersiapkan dengan kesungguhan.
Sekarang tunggu apalagi.
Yuk, persiapkan?
"Apabila seorang manusia mati, putuslah amalan mereka (saat itu). Kecuali TIGA perkara, yakni sedekah JARIAH, ilmu yang memberi MANFAAT kepada orang lain, serta anak soleh(ah) yang berDO'A untuknya".
(HR. Imam Ahmad)
Wallahu a'lam
#InspirasiHariIni
THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter : @RealYoungMuslim
#AyoMentoring
Rabu, 12 Agustus 2015
Adab-Adab Dalam Berdoa
Oleh
Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani
1. Mengucapkan pujian kepada Allah terlebih dahulu sebelum berdo’a dan diakhiri dengan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
2. Husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah
3. Mengakui dosa-dosa yang diperbuat. Perbuatan tersebut mencerminkan sempurnanya penghambaan terhadap Allah
4. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a
5. Terus-menerus dalam berdo’a
6. Berdo’a dengan mengulanginya sebanyak tiga kali
7. Berdo’a dengan lafazh yang singkat dan padat namun maknanya luas
8. Orang yang berdo’a hendaknya memulai dengan mendo’akan diri sendiri (jika hendak mendo’akan orang lain)
9. Memilih berdo’a di waktu yang mustajab, di antaranya adalah:
a. Pada waktu akhir malam
b. Di antara adzan dan iqamah
c. Di saat dalam sujud
d. Ketika adzan
e. Ketika sedang berkecamuk peperangan
f. Setelah waktu ‘Ashar pada hari Jum’at
g. Ketika hari ‘Arafah
h. Ketika turun hujan
i. Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar). (Lihat ad-Du’a, karya ‘Abdullah al-Khudhari)
Minggu, 02 Agustus 2015
Renungan Bagi Para Suami
💟 Kuserahkan putri q padamu 💟
(Renungan bagi para suami)
Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua. Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu... Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya. Tapi,... Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya. Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku.
Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kami pun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami. Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan. Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami. Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia. Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri. Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.
Sabtu, 01 Agustus 2015
Fenomena Left Group
Fenomena Left Group.
"Ah bikin sakit hati nih omongannya, yaudalah gue left group aja"
"Ya ampun..ini grup sepi amat. Buat apaan ada grup , yaudalah left grup aja"
"Ih parah banget chat gue ga direspon tapo yang lain direspon, ah bt.yaudah left grup"
"Ahhh berisik banget ini grup.. ganggu aja ah, bikin hp nge-hang aja ih. Mending chat nya penting. lalu ia.left grup"
Dan masih banyak yang lainnya..
sob, kenapa sih mudah banget kita left grup?
Mungkin menurut sebagian orang itu hal yang sederhana, hanya keluar dari suatu grup.
Keluar dengan berbagai alasan yang sebenarnya hanya terlintas sebagai peluap emosi sesaat.
Padahal, dengan banyaknya orang yang mudah left grup sesuka hatinya akan mempengaruhi kondisi psikologis anggota yang lain.
Bahkan, semakin seringnya itu terjadi dalam sebuah grup akan mengubah esensi kebersamaan grup tersebut. Atau bisa juga memutuskan tali silaturrahmi sebuah komunitas atau kelompok. Jika dibiarkan, fenomena left grup ini akan sering terulang dan berpola.
Seseorang yang sedang merasa tidak nyaman dalam segi emosinya, ia akan mudah terprovokasi dengan apapun dan left grup merupakan jalan pintas untuk keluar dari masalah yang seharusnya bukan menjadi masalah bila ia mau lebih bersabar dan memahami anggota grup yg lain.
Sebenarnya, kita bisa lebih merenungi awal mula kita masuk dalam sebuah grup komunitas atau grup lain.
Tentunya, kita punya 1 niat karena Allah untuk bergabung dalam sebuah grup.
Untuk menjaga silaturrahim, untuk berdiskusi untuk kebaikan, untuk mengingatkan tentang kebaikan atau bahkan untuk bersinergi dalam menjalankan suatu amanat.
Sebuah grup pun dibuat bukan untuk main-main melainkan untuk memudahkan kita dalam berkoordinasi dan berhubungan dengan anggota yang lainnya.
Ada beberapa tips untuk menghindari terjadinya fenomena "Left grup" ini :
- Ingat kembali tujuan dibentuknya grup tersebut.
- Hidupkan grup dengan sapaan ringan yang hangat sehingga semua anggota nyaman dan merasa dianggap.
- Menjadi member yang responsible dalam menanggapi info penting. Karena jika ingin dihargai maka mulailah untuk menghargai org lain.
- Berusaha mengenal setidaknya beberapa anggota grup yang sering muncul, pahami gaya bicaranya dan kepribadiannya agar jika ada kata2 yang tidak baik bisa kita pahami dan mengurangi salah paham.
- Selalu berpikiran positif terhadap grup. Jika grup sedang sepi mungkin anggotanya sedang sibuk, atau jika terlalu ramai mungkin anggota grup sedang luang. So, manfaatkanlah moment kebersamaan didlm grup.
Jika kita selalu menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi, takkan ada perubahan yg kita dapat. Bahkan kebencian yang akan melekat dalam hati kita.
Tetapi , mulailah menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai setiap detik yang terjadi. Bersyukur atas segala pencapaian yang telah dimiliki dan mencintai semua orang2 yang hadir dalam hidup kita meski dalam dunia nyata ataupun maya. Karena setiap yg terjadi merupakan takdir yang Allah rencakan untuk kita.
Dipertemukan dengan orang2 yg awalnya tidak saling kenal atau bahkan ada dibelahan dunia yang mana.
Namun, Jika Allah yg menyatukan mungkin dimaksudkan untuk satu hal. Yaitu, untuk saling mengingatkan tentang kebaikan dan kesabaran.
#Aku,KamuDanJalanDakwahKita
Ttd,
Jakarta 31 Juli 2015
Arif Agung Pamuji
NB: Jarkoman ini sudah meluas ke seluruh Indonesia. So? Bagikan ke group komunitas kalian.
Semoga Bermanfaat.








Portal STIE
ROHIS AL-AMIN