Sentuhan Mentoring
oleh : Rosmawati
 |
| gambar hanya ilustrasi |
Mentoring, khususnya mentoring keislaman mungkin merupakan sebuah kata yang lumrah dan telah sering didengar oleh sebagian dari kita. Namun mentoring ini menjadi sebuah kata yang sangat asing bagi saya. Selama SMA tak pernah sekalipun ku tersentuh oleh mentoring. Sampai saat diawal masuk kuliah aku diperkenalkan kepada mentoring oleh kakak-kakak kelas saya di STIE Pembangunan Tanjungpinang.
Awalnya, pagi ini aku merasa malas untuk datang mentoring. Ada beberapa faktor yang menyebabkan badmood. Tapi akhirnya aku datang juga dengan sejuta kegalauan di tengah-tengah masalah yang kuhadapi. Ketika sampai dikampus STIE Pembangunan, aku bersalaman dengan teman-teman yang sudah datang lebih awal kemudian mengacuhkan mereka lagi. Bukan kebiasaanku seperti ini. Tapi saat itu aku sedang benar-benar fokus dengan handphone di tangan ku, mengetik SMS. Ketika mentoring dibukapun aku belum terlalu memperhatikan karena aku belum selesai mengetik SMS. Begitupun saat tilawah dibacakan bergantian. Hanya ketika tiba giliranku untuk membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an, aku melepaskan HP-ku. Bahkan sampai tausiyah disampaikan aku belum selesai mengetik SMS. Panjang sekali memang, 14 halaman. Rasanya bila aku menunda apa yang ingin aku sampaikan melalui SMS, perasaan itu akan semakin menghilang, kemarahanku akan berkurang namun kesedihanku akan bertambah. Salah memang sengaja memelihara kemarahan. Tapi… ya entahlah. Itu yang ingin kulakukan saat itu. Semoga Allah mengampuniku, Amin.
***
Setelah beberapa lama aku selesai dengan “urusanku” dan mulai memperhatikan tausiyah yang disampaikan Kak Novi. Saat itu pendamping tentorku, Kak Norma belum datang karena ada keperluan yang perlu diurus terlebih dahulu. Banyak yang kami bahas disela-sela obrolan bermanfaat itu, mulai dari jangan durhaka kepada orang tua, menyambung silahturahmi dan masih banyak lagi.
Lama Kak Norma datang dengan senyuman, seperti biasa. Ukhti shalihah ini, aku semakin menyayanginya. Kapan ya aku bisa seperti dia? Hehe… mentoring dibuka dengan cerita pendeknya tentang kisah sahabat nabi yang sangat takut akan murkanya Allah SWT karena pada saat itu ia pulang dari masjid ia sedang melihat seorang wanita sedang mandi karena itulah ia sangat takut dan akhirnya ia meninggal dunia. Pada saat pemakamannya Rasulullah SAW terlihat jalan menjingkrak-jingkrak seperti ada yang dilewatinya. Sahabatpun bertanya mengapa beliau demikian, ternyata beliau sedang menghindari para malaikat yang sedang berziarah mengikuti mayat sahabat tersebut. Demikian yang dapat saya ingat tentang bahasan mentoring kala itu.
Ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Tiga hal itu adalah “cinta, takut dan harap”. Janganlah takut ketika tidak ada orang yang mencintai kita, sesungguhnya cinta antara manusia adalah cinta yang semu. Jika kita merasa tidak ada yang benar-benar mencintai kita maka carilah cinta yang sejati, cinta kepada Allah. jika kita mencintai Allah maka kita tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan. Justru Allah akan mencintai kita lebih dari cinta kita kepada-Nya. Tahukah kau? Jika Allah mencintai kita, maka tidak ada sesuatupun yang patut kita takutkan. Ujian cinta Allah adalah dengan masalah. Sejauh mana kita mampu melewati masalah itu dengan jalan cinta Allah SWT dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda “seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (dihari akhirat nanti).” (HR. Muslim)
Takut dan berharap kepada Allah. Takutnya seorang mukmin kepada Allah SWT adalah tanda keimanan, karena dia akan semakin termotivasi untuk beribadah dengan rasa takut itu. Misalnya, bedoalah dengan rasa takut, takut jika doa itu tidak bisa terkabul. Walaupun Allah hanya mempunyai 3 jawaban untuk setiap doa kita: ya; ya, tapi tidak sekarang; atau Aku punya rencana lebih baik untuk hidupmu. Salah seorang temanku melontarkan pertanyaan “Mbak, kan ada tuh lagu yang liriknya ‘jika dan syurga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepadanya’. Terus ada yang bilang katanya ‘berarti ibadah itu cuma karena mengharapkan syurga dong, kalo ga ada syurga sama neraka gak mau ibadah’. Tapi kan Mbak, aku pernah baca di Al Qur’an “Mintalah syurga kepada-Nya dan mintalah untuk dijauhkan dari neraka’. Berarti di Al Qur’an adakan Mbak? Itu gimana?” Wah… panjang lebar sekali pertanyaannya. Mbak Dita menjawab, itu seminimal-minimalnya kita takut kepada Allah SWT. Mengharapkan syurga-Nya dan mengharapkan dijauhkan dari neraka-Nya. Dan hal itu diperbolehkan, sama sekali tidak dilarang. Namun, akan lebih baik ketika kita beribadah karena merasa ibadah itu adalah kebutuhan kita sebagai hamba Allah SWT yang memang sudah sepantasnya demikian. Ketika mengharapkan syurga, jangan tanggung-tanggung ketika berdoa. Rasulullah SAW bersabda, mintalah syurga Firdaus. Sesungguhnya Syurga Firdaus adalah sebaik-baiknya syurga dan hanya berharaplah kepada Allah. Karena ketika kita bergarap kepada manusia, hanya akan ada kekecewaan.
Sampailah dipertanyaanku tentang “Mengapa Allah menciptakan orang baik dan orang jahat?” sebenarnya hal ini pernah aku tanyakan pada beberapa orang. Ada yang menjawab karena dunia ini butuh keseimbangan, seperti konsep Yin dan Yang. Apa jadinya jika didunia ini jika semuanya orang baik semua atau orang jahat? Apa jadinya dunia ini jika semuanya kaya atau semuanya miskin? Apa yang jadi parameter untuk menentukan orang itu baik, jahat, kaya, miskin dan lainnya? Itulah, dunia butuh keseimbangan. Ada jawaban dari seseorang yang hampir sama dengan penjelasannya. Jika disimpulkan mungkin jadi seperti ini bahwa takdir terdiri dari takdir yang tidak bisa diubah dan takdir yang bisa diubah. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka” (Q.S. Ar-Ra’d 13: 11). Allah bisa saja menciptakan manusia baik seluruhnya, namun manusia dikaruniai akan dan pikiran yang akan menjadi alat manusia dalam menjalani kehidupan. Hidup adalah pilihan, dengan ujian-ujian yang Allah timpakan kepada manusia, maka dengan akal dan pikiran itulah manusia harus bisa memilih jalan mana yang terbaik untuk hidupnya menurut Rasulullah SAW sebagai teladan hidup kita. Jadi, bukan berarti karena kita tidak tahu kita akan menjadi ahli syurga atau ahli neraka maka kita menjadi pasrah begitu saja tanpa melakukan suatu usaha, hanya mengalir seperti air. Itulah orang-orang yang merugi. Ingatlah kembali kutipan ayat dalam Q.S. Ar-Ra’d 13:11 diatas.
Hm… apa lagi ya yang disampaikan hari ini? Lupa, hehe… ini hanya sebagian dari
rangkuman mentoring. Entah benar atau tidak, karena itu hanya sepenangkapanku. Sebagian besar materinya bisa menjawab semua pertanyaan dipikiranku, mengobati sedih hatiku, benar-benar sesuai dengan masalah yang sedang aku hadapi saat ini. Terima kasih ya Allah, karena pagi ini Engkau telah memberiku pilihan tujuan yang terbaik. Terima kasih karena selalu menegurku di saat aku mulai lalai. Terima kasih karena telah memberiku saudari yang shalihah yang dapat saling mengingatkan disaat kami melakukan khilaf. Sungguh, hari ini aku rasakan cinta-Mu yang besar kepadaku. Subhanallah walhamdulillah walaa ilahalillah wallahuakbar. Semoga seterusnya aku bisa bersama orang-orang yang Engkau cintai. Aku butuh mereka sebagai perantara-Mu untuk menuntunku menjadi lebih baik dalam menjaalni hidup ini, Ya Allah.
Apa yang terjadi hari ini, semoga yang terbaik untuk kita. Jangan marah, apalagi bersedih, dan berbahagialah. Jadilah bagian terpenting bagi orang lain dan buatlah orang lain tertawa bahagia karena kita. Nice to meet you.
0 komentar:
Posting Komentar
"berkatalah yang baik atau hendaklah diam"
-Admin QSO