QSO

Sabtu, 28 Maret 2015

Mentoring Merubahku

*gambar ilustrasi

Hi, Aku Lia. Aku adalah seorang wanita yang manja dan tomboy tapi lumayan manis. Aku mempunyai keluarga yang boleh dikatakan “Broken Home”.Sekarang aku sedang kuliah di STIE Pembangunan Tanjungpinang. Kehidupanku suram. Mewah tetapi tidak ada kebahagiaan. Tidak ada sahabat dalam kehidupanku. Hanya ada teman yang senang berfoya-foya bersamaku. Dan pergi begitu saja ketika mereka telah dapatkan apa yang mereka mau. Orang tuaku sudah bercerai semenjak aku SMP. Aku tinggal bersama ibuku. Ibuku sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu untukku. Tidak pernah mengenalkan ku dengan Islam. Walaupun aku Islam sejak lahir, tapi hanya Islam KTP. Dan aku adalah anak tunggal dari perkawinan ayah dan ibuku dulu. Sekarang ayahku telah menikah lagi dan tinggal bersama keluarga barunya. Aku sangat membencinya.

Tetapi kehidupanku jadi sedikit berubah semenjak aku kuliah dan mempunyai teman yang sangat idealis menurutku. Ia cantik, baik, pinter dan religius. Annisa namanya. Seorang wanita yang rendah hati dan dari keluarga yang sederhana, tetapi penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Awalnya aku sangat tidak suka padanya. Jujur aku iri padanya. Ia seperti punya segalanya. Karena aku berpenampilan seperti seperti laki-laki alias tomboy sehingga tak heran bila aku lebih sering bergaul dengan laki-laki. Dan kupingku sering panas ketika mereka selalu memuji Annisa didepanku. Mereka melihat Annisa seperti melihat bidadari. Aku iri dengan Annisa dan itu semakin membuatku tidak suka padanya.

Namun lambat laun, hari demi hari aku mulai luluh dengan sifat dan sikapnya yang lembut. Aku mulai akrab dengannya dan kebetulan kamipun sekelas. Lalu ia memberitahuku bahwa ada suatu agenda yang harus kami lalui, yaitu mentoring.

Aku penasaran apa itu mentoring. lalu tibalah hari pertama mentoring. kami masuk ke ruang 2.01. Disana sudah ada 2 orang kakak yang berhijab sudah menunggu kami dengan senyuman hangat. Aku dan Annisa berada diruangan yang sama dengan beberapa teman lain, yaitu Riri, Diana, Vici, Ulfa, Ulfah, Melisa, dan 2 orang kakak tadi bermana Kak Novi dan kak Norma. Mentoringpun dibuka oleh Kak Norma selaku pendamping mentoring kami. Kami membaca Al Fatihah dan QS Al Baqarah, setelah itu masing-masing dari kami memperkenalkan diri.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Setiap hari jum’at mentoring diadakan, kurasakan ada ketenangan dan kenyamanan ketika dikelas mentoring. Terutama ketika pembacaan Al Qur’an secara bergantian. Kurasakan apa yang tidak kurasakan dirumah. Kebersamaan, keakraban dengan teman-teman yang menurutku lebih baik dari pada teman-temanku sebelumnya.

Ketika mentoring berlangsung aku menggunakan hijab dan Annisa mengatakan bahwa aku terlihat lebih cantik mengenakan hijab. Semenjak mentoring aku mulai mengurangi pergaulanku dengan laki-laki. Hingga sekarang aku mempunyai teman-teman yang kebanyakan adalah wanita.

Ketika kak Novi menyampaikan materi tentang pentingnya menutup aurat, akupun tertunduk. Aku malu pada diriku sendiri. Selama ini aku selalu mengumbar auratku. Dan sejak saat itulah aku bertekad untuk mulai berhijab dan teguh menjaga auratku.

Ketika aku pulang, aku mengajak Annisa untuk menemaniku membeli baju-baju panjang dan hijab. Kulihat ada raut terharu diwajah Annisa. Iapun lalu memelukku dan mengucapkan Alhamdulillah.

***

Keesokan harinya aku sudah berpenampilan sebagai wanita yang benar-benar muslimah. Ibukupun heran melihat perubahanku. Minggu demi minggu berlalu. Materi demi materipun telah disampaikan. Tentang syahadatain, motivasi berprestasi, menundukkan pandangan, akhlak terpuji, ukhwuwah islamiyah dan lain sebagainya.

Mentoring mengajariku banyak hal. Aku merasakan perubahan yang teratur dalam hidupku. Sekarang Alhamdulillah aku sudah mendirikan sholat 5 waktu. Aku telah berhijab dengan sempurna. Aku bertaubat mohon ampun kepada Allah SWT karena selama ini aku telah lalai dari kewajibanku. Sikapkupun mulai berubah perlahan. Aku tidak lagi kasar kepada ibuku. Aku mulai bisa baik terhadap ibuku. Hingga suatu kenyataan yang harus kuhadapi, ibuku wafat ketika aku sedang kuliah. Aku merasa terpukul ketika tetanggaku datang ke kampus memberitahu ku bahwa ibu telah pergi untuk selamanya. Aku mencoba kuat dengan mengatakan “Ibu, aku menyayangimu. Tapi Allah lebih sayang padamu hingga Ia mengambilmu”. Akupun pulang dengan ditemani Annisa.

Aku sangat bersyukur karena Allah telah mempertemukanku dengan Annisa. Melaluinya juga aku tersadar dengan ksesalahan-kesalahanku. Aku termotivasi olehnya. Aku sangat saying padanya.

Setelah kepergian ibuku, aku tinggal bersama ayah dan ibu tiriku. Aku mempunyai 2 orang adik. Aku mencoba menyayangi ayahku. Ayah yang selama ini tidak perduli tentang aku. Kehidupan barukupun mulai dari sini. Life start here.

Penulis : Herlini

0 komentar:

Posting Komentar

"berkatalah yang baik atau hendaklah diam"

-Admin QSO