MENTORING ITU INDAH
Oleh : Citra Malayani
 |
| Gambar ilustrasi |
Hari ini adalah hari pertamaku kuliah. Awalnya gugup, bingung tapi senang juga sih. Senang karena banyak teman-teman baru yang beluk ku kenal sebelumnya. Dalam pelajarannya juga sangat jauh berbeda, maklumlah ya dulu di SMA ambil jurusan IPA dan sekarang mengambil akuntansi, tau sendiri deh bagaimana perbedaannya. Kalau dari segi temannya sih masih pada malu-malu dan masih main berkelompok-kelompok gitu, jam pertemuannya juga lebih singkat dari pada SMA dulu. Setiap pertemuan masih biasa-biasa saja, belum ada kegiatan lain diluar jam perkuliahan.
Hari berganti dan berlalu dengan cepat, pada saat jam mata kuliah pendidikan agama Islam berlangsung, dosenku mengenalkan kegiatan mentoring kepadaku dan juga seluruh teman kelasku. Mentoring tersebut bisa menambah nilai agama juga tentunya. Respon pertama ya pasti bingung seperti apa, dan sempat terfikir oleh ku “Apa mentoring itu seperti eskul waktu SMA dulu ya? Duh masak iya kuliah harus ada kegiatan-kegiatan seperti ini” batin ku. Setelah dijelaskan aku dan temanku yang lainnya baru sedikit mengerti apa itu mentoring, kalau di SMA dulu biasanya disebut rohis. Meskipun tidak diwajibkan, tapi aku ingin mengetahui lebih banyak tentang mentoring, masih ada rasa penasaran tentunya dan bukan hanya karena nilai juga, hahaha. Kegiatan tersebut tidak ditentukan hari apa saja, kita bisa memilih hari apa saja yang kita mau. Kebetulan aku memilih hari jum’at karena biar tidak bentrok dengan jam mata kuliah.
Setiap jum’at aku dan teman-teman mengikuti mentoring, walaupun tidak terlalu minat dengan kegiatan tersebut tapi aku mengikutinya dengan ikhlas bukan karena terpaksa dapat nilai. Meskipun banyak halangan untuk datang mentoring, misalnya saja seperti hujan. Kalau sudah hujan pasti malas untuk beraktivitas diluar rumah apalagi yang namanya ke kampus, duh itu mungkin bisa menjadi alasanku untuk tidak hadir.
***
Hari pertama mentoring, aku sempat mikir dan bertanya dalam hati “Ngapain aja ya disana nanti? Kalau cuma sedikit orangnya pasti membosankan” pikirku. Akhirnya pada hari ini aku datang terlambat. Sesampainya diruangan, sempat terkejut karena lihat orangnya cuma sedikit dan tidak seperti yang kubayangkan. Kami duduk membentuk lingkaran, mungkin tujuannya agar tidak membelakangi satu sama lainnya dan setelah itu kami membaca Al Qur’an beserta artinya juga satu persatu. Karena baru hari pertama mentoring kamipun saling memperkenalkan diri masing-masing. Banyak teman-teman yang belum aku kenal sebelumnya dan baru saat itu juga berjumpa. Setelah selesai kamipun mendengarkan tausiyah dari kakak pementornya, karena baru pertama mungkin belum terlalu fokus dalam menerima materi dan terlihat juga teman-teman yang lainnya pada asyik dengan urusannya sendiri, seperti memaikan handphone. Suasana jelas terlihat membosankan. Setelah tausiyah selesai, ada sesi pertanyaan dan curhat-curhat gitu. Banyak juga yang bertanya dan aku masih diam-diam saja karena juga belum terlalu mengerti apa yang disampaikan kakak pementornya. Pertanyaan dan curhatan semuanya bisa dijawab dan ditanggapi oleh pementornya. setelah semuanya selesai kamipun mengusulkan untuk membuat ketua kelompok dan kami diajarkan untuk menjadi MC dalam mentoring tersebut serta mendapat gilirannya masing-masing setiap minggunya.
Pada pertemuan kedua, agendanya masih sama saja dengan sebelumnya, membaca Al Qur’an dan mendengarkan tausiyah. Kali ini kami mendapatkan materi tentang adap berpakaian gitu. Disitu aku dan temanku satu kelompok mentoring mendengarkan apa yang sudah disampaikan oleh kakak mentornya. Sekarang aku bisa fokus, sudah merasa dekat dengan teman-teman yang lain, juga sama kakak mentornya yang kukira awalnya dia itu aneh. Kakak itu menyampaikan tentang cara berpakaian yang baik, sopan dan menutup aurat, serta memakai pakaian yang tidak ketat dan juga tidak tembus pandang. Kami juga diajarkan untuk berakhlak baik, lembut, tidak kasar, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Pada sesi sharing dan tanya-jawab, banyak pertanyaan yang muncul dan kakak mentornya menjawab dengan baik, dan terkadang di dasari oleh ayat-ayat di dalam Al Qur’an dan hadist-hadist nabi. Kalau kakak mentornya tidak bisa menjawab pertanyaan kami, itu biasanya dijadikan pekerjaan rumah untuknya dan akan dijawab pada pertemuan selanjutnya. Sesekali aku ingin untuk melaksanakan mentoring di tempat lain dan tidak dikampus terus karena banyak juga kulihat kelompok mentoring yang lain melaksanakannya diluar kampus. Sesekali mungkin perlu di adakan seperti itu sebagai refreshing dan juga biar tidak bosan.
Setiap minggu mengikuti mentoring, aku merasa bisa tenang dan lebih baik, tausiyah-tausiyah yang diberikan juga sangat bermanfaat dan bisa menambah ilmu juga. Banyak yang tidak ku ketahui sebelumnya bisa tau sekarang. Bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari terutaman pada diri sendiri. Banyak perubahan setelah aku mengikuti mentoring, ya khususnya mungkin dari cara berpakaian, yang tadinya aku Cuma memakai jilbab dikampus saja sekarang aku mulai belajar mengenakan disetiap keluar rumah dan bepergian. Awalnya sih masih ragu karena aku tidak pernah memakai jilbab kemanapun kecuali kuliah, kalau memakai jilbab keluanya seperti berkumpul dengan teman-teman pasti dibilangnya tumben dan sedikit aneh. Dan ku kira orang tua ku pun berpendapat yang sama dengan temanku. Pada akhirnya aku menceritakan persoalan ini kepada orang tuaku, ternyata dugaanku selama ini salah. Mereka lebih senang apabila aku memakai jilbab kemanapun aku pergi. Alhamdulillah sekarang bisa lebih nyaman memakainya. Dari mentoring juga sedikit mengubah akhlakku dan kebiasaan burukku.
***
Ternyata mentoring itu enak, tidak membosankan seperti yang ku kira, kakak mentornya juga baik dan semangat dalam menyampaikan tausiyahnya. Teman-temannya baik, ramah dan kompak. Mentoring memiliki peranan penting untuk membentuk kepribadian kita dan memiliki semangat untuk melakukan ibadah, memotivasi diri untuk menjadi lebih baik.
0 komentar:
Posting Komentar
"berkatalah yang baik atau hendaklah diam"
-Admin QSO